Teror Ayam Mati, Molotov, dan Makna Demokrasi yang Terseret

oleh -300 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Penghujung Desember 2025 menjadi penanda kelabu itu. Ramond Dony Adam atau biasa dipanggil DJ Donny, kreator konten yang kerap mengkritisi manipulasi informasi dan kebijakan publik, mengalami dua kali teror beruntun. Pada 29 Desember, rumahnya dilempari bangkai ayam tanpa kepala, disertai ancaman. Dua hari berselang, 31 Desember, teror meningkat menjadi pelemparan bom molotov. Ini bukan lagi intimidasi simbolik, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan nyawa.

Teror ini tidak berdiri sendiri. Pada waktu yang hampir bersamaan, Iqbal Damanik, Virdian Aurelio dan Sherly Annavita, aktivis Greenpeace Indonesia, juga mengalami intimidasi akibat kerja-kerja kritis mereka mengungkap kejahatan lingkungan, perusakan hutan, dan relasi gelap antara korporasi ekstraktif dan kekuasaan politik. Kritik terhadap industri tambang, energi, dan perampasan ruang hidup kembali dibalas bukan dengan klarifikasi data, tetapi dengan tekanan dan ancaman.

Baca Juga  Hukum Melanggar Larangan di Hari Arafah, Apa Dampaknya?

Dua kasus ini—DJ Donny, Iqbal Damanik dan kawan-kawan—menunjukkan satu pola yang sama. Ketika kritik menyentuh kepentingan ekonomi-politik yang sensitif, maka teror dipakai sebagai alat pembungkaman. Waktunya berdekatan, metodenya berbeda, tetapi tujuannya seragam; menghentikan suara sebelum ia menjangkau publik lebih luas.

No More Posts Available.

No more pages to load.