Lebih jauh dia mengungkapkan, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi daerah Maluku adalah berasal dari kebijakan penerapan hilirisasi bahan mentah dari dalam negeri. “Memang di masa sekarang ini ada sektor-sektor yang potensial yang menjadi pendorong pertumbuhan itu di antaranya adalah hilirisasi sektor dalam konteks manufaktur dari produk-produk pertambangan produk yang banyak dibutuhkan di pasar internasional, seperti nikel, bauksit kemudian sektor-sektor yang lainnya,” jelasnya.
Namun, dia mengingatkan agar tidak terlena dengan pertumbuhan ekonomi yang fantastis tersebut. Pasalnya pemerintah daerah masih harus memperhatikan pelemahan ekonomi global dan tingkat suku bunga yang tinggi. “Tetapi sebenarnya bukan berarti kita serta merta langsung happy. Karena ada juga faktor risiko yang harus diperhatikan. Misalkan pelemahan ekonomi global kemudian tingkat suku bunga yang tinggi inflasi yang tinggi di berbagai wilayah dan juga mungkin faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara, Sulawesi dan Papua,” katanya.
Rosdiana juga menekankan kehati-hatian potensi resesi global yang diprediksi terjadi di 2023 nanti. Potensi resesi global tersebut harus benar-benar diperhatikan. “Tentu kita harus mewaspadai adanya pelemahan-pelemahan kinerja ekonomi secara global tadi. Nah, adanya inflasi sekitar 3 persen dan pada saat yang sama ada kenaikan harga komoditas, kemudian inflasi di provinsi ini juga tidak terlalu tinggi. Sehingga ada permintaan terhadap produk dan jasa, dalam artian daya beli masyarakat lokal juga terjaga dengan baik. Saya kira itu antara lain penyebabnya,” ujarnya.




