Hari berganti, bulan pun beralih. Kita menjadi semakin dekat sejak kejadian di lapangan tempo hari. Aku sering menunggumu bermain basket di tepi lapangan, melihat gerakan-gerakan indahmu ketika merebut bola dan memasukkannya ke dalam ring. Aku suka mendengar teriakan dan cicit sepatumu ketika bergesekan dengan lantai semen lapangan basket. Semua itu selalu bisa membuat senjaku semakin indah.
Hari ini kau mengajakku ke sebuah taman di tengah kota. Katamu, kau sengaja izin untuk tidak ikut berlatih basket hari ini untuk menanyakan satu hal padaku. Dan di sinilah kita, berdua menikmati senja yang tak lama lagi menghilang di telan gelap.
“Aku mencintaimu. Adakah rasa yang sama di hatimu untukku?” tanyamu tiba-tiba, tanpa kata pembuka.
Aku melihat ke dalam matamu dan aku kembali tenggelam dalam keteduhanmu. Aku menangkap keseriusan di sana, satu hal yang belum pernah aku temukan dalam sorot matamu yang teduh namun jenaka. Meski aku tahu kau akan mengatakan hal tersebut, namun tetap saja ada sesuatu yang bergemuruh dalam dadaku. Bergejolak dan membuatku nyaris melompat. Bahkan aku takut kau bisa mendengar detak jantungku yang tidak beraturan saat ini.
Aku mengangguk, kemudian tersenyum kecil. Sepertinya kau tidak menghiraukan isyaratku, kau bahkan tidak berhenti menatapku dengan pandangan yang sama seperti beberapa saat lalu.




