Porostimur.com, Jakarta – Indonesia saat ini berada di meja utama dunia, seiring dengan jabatan Presidensi G20 untuk pertama kalinya.
Mestinya ini menjadi momen bersejarah di mana Indonesia bisa membuat jejaknya di dunia. Namun, agaknya Indonesia lebih memilih melewatkan kesempatan itu.
G20 adalah forum internasional yang fokus pada koordinasi kebijakan di bidang ekonomi dan pembangunan. Namun, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengambil inisiatif apa pun tentang apa yang terjadi saat ini, yang mungkin paling vital yang terkait dengan dunia internasional, yaitu invasi Rusia ke Ukraina. Sayangnya, Indonesia memilih diam.
“Indonesia, seperti tetangganya Singapura dan Filipina, memilih mendukung keputusan PBB yang mengkritik Rusia. Namun, Indonesia tidak berusaha memanfaatkan tempatnya saat ini untuk mengumpulkan hampir semua anggota G20 untuk mengambil sikap terhadap invasi Rusia,” ujar Philip Bowring, pendiri dan editor konsultan Asia Sentinel, dalam artikelnya yang tayang hari ini, Rabu (16/3/2022).
Invasi Rusia tidak hanya mengancam dan mengganggu perdagangan di komoditas utama seperti gandum, bahan bakar, dan nikel, menurutnya. Invasi Rusia juga menyebabkan kerusakan dalam rantai pasokan yang melayani semua jenis industri termasuk chip laptop yang penting bagi banyak industri dan secara singkat menyediakan bahkan lebih awal dari gerakan Rusia.




