Ia menambahkan, kendala utama yang menyebabkan deviasi sekitar 10 persen disebabkan oleh keterlambatan bahan bangunan seperti atap dan besi yang masih harus dikirim dari Surabaya.
“Meski ada deviasi, kami tetap optimis proyek ini bisa terselesaikan sesuai target, yakni pada 31 Desember 2025,” ujarnya.
Fokus Pembangunan: Dari Drainase hingga Kantor Pengelola
Recky menjelaskan, dari total anggaran Rp22 miliar, Rp13 miliar digunakan untuk pekerjaan konstruksi yang menjadi tanggung jawabnya, sedangkan Rp9 miliar dialokasikan untuk pengadaan kapal dan sistem rantai dingin.
Ia juga mengungkapkan bahwa dari 29 item pekerjaan, sebagian besar sudah berjalan sesuai jadwal. Hanya pembangunan kantor pengelola KNMP yang sedikit tertunda karena adanya perubahan desain gambar.
“Namun pembangunan lain sudah berjalan baik. Untuk jalan dan drainase sudah rampung, dan saat ini fokus diarahkan ke penyelesaian area utama,” jelasnya.
Proyek Kampung Nelayan Merah Putih di Kota Tual diharapkan menjadi model pemberdayaan nelayan berbasis digital dan terintegrasi di kawasan timur Indonesia, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi pesisir melalui fasilitas modern dan sistem rantai pasok hasil laut yang efisien. (Vera Renyaan)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News









