“Menyamakan pesan saya dengan apa yang diupayakan presiden berarti tidak memahami pesan Injil,” ujarnya dalam perjalanan menuju Aljazair, Senin (13/4/2026).
Ia juga menegaskan tidak merasa gentar terhadap tekanan politik, dan menekankan bahwa misi Vatikan adalah mendorong perdamaian global.
Reaksi Internasional Menguat
Kritik Trump terhadap Paus memicu reaksi dari berbagai tokoh dunia. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, secara terbuka mengecam pernyataan tersebut.
“Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan wajar baginya menyerukan perdamaian serta mengutuk perang,” tegas Meloni.
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, turut mengecam keras komentar Trump yang dianggap menghina pemimpin umat Katolik dan menyinggung isu sensitif terkait Iran.
“Saya mengutuk penghinaan ini. Penodaan terhadap simbol perdamaian tidak dapat diterima,” ujarnya.
Dari internal Gereja, Uskup Agung Paul S. Coakley juga menyayangkan pernyataan Trump. Ia menegaskan bahwa Paus bukanlah aktor politik, melainkan pemimpin spiritual bagi umat Katolik di seluruh dunia.
Konflik Politik dan Agama
Polemik ini memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik di Timur Tengah turut merembet ke ranah hubungan antara politik dan agama. Trump, yang diketahui memiliki dukungan kuat dari kelompok evangelis konservatif, kerap mengaitkan kebijakan luar negeri dengan narasi keagamaan.











