Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombes Pol Yoga Putra Prima Setya, membenarkan adanya aksi pemblokiran jalan tersebut. Namun, kata dia, aksi warga berlangsung damai dan tidak anarkis.
“Setelah diberikan pemahaman oleh pihak kepolisian, camat, dan aparat desa, warga akhirnya membuka kembali akses jalan sekitar pukul 10.30 WIT. Arus lalu lintas kembali normal,” jelasnya.
Aksi Damai, Tapi Penuh Pesan
Warga menegaskan bahwa aksi ini bukan bentuk perlawanan, melainkan jeritan yang sudah lama mereka pendam. Mereka berharap pemerintah provinsi tidak lagi menutup mata terhadap kondisi infrastruktur di daerah pesisir seperti Waiyari.
“Kami ingin solusi, bukan janji. Kalau nanti banjir besar datang dan ada korban, siapa yang tanggung jawab?” tutur seorang ibu rumah tangga dengan nada getir.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Provinsi Maluku terkait rencana pembangunan talud di wilayah tersebut. (red)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel porostimur.com









