“Revitalisasi bukan sekadar memulihkan ekonomi yang lesu, tetapi memberi napas, energi, dan arah baru. Dengan sinergi tepat, Maluku dapat berlari, bukan hanya bertahan,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Frederika S. Pello menyoroti ancaman ledakan fitoplankton beracun atau Harmful Algal Bloom (HAB) yang mengancam ekosistem laut tropis. Ia merekomendasikan pemantauan plankton, pengendalian pencemaran nutrien, serta edukasi nelayan agar sumber daya ikan tetap lestari.
Inovasi Kesehatan dan Keamanan Pangan Laut
Prof. Beni Setha memaparkan inovasi mencegah keracunan histamin pada ikan tuna dan cakalang dengan memanfaatkan senyawa bioaktif daun jarak pagar (Jatropha curcas L.). “Daun jarak pagar bukan hanya alternatif, tapi transformasi dalam menjaga keamanan pangan laut,” katanya.
Di bidang kesehatan, Prof. Maria Nindatu menargetkan eliminasi malaria di Maluku pada 2028—dua tahun lebih cepat dari target nasional—dengan insektisida hayati berbahan tanaman lokal seperti nilam, daun cengkeh hutan, dan biji hutun. “Inovasi ini ramah lingkungan dan dapat memutus siklus hidup nyamuk Anopheles,” ujarnya.
Matematika yang Membumi dan Berbudaya
Prof. Anderson Leonardo Palinussa mengusung konsep Realistic Mathematics Education (RME) dengan mengintegrasikan budaya lokal seperti pela gandong, masohi, dan badati dalam pembelajaran.










