Ia menyinggung teori Big Bang yang dipopulerkan oleh Stephen Hawking, yang menjelaskan terbentuknya alam semesta dari ledakan besar tanpa secara eksplisit memasukkan konsep ketuhanan.
Namun, menurutnya, keberadaan energi sebagai unsur dasar justru dapat menjadi pintu masuk untuk memahami keberadaan Tuhan.
Ia juga mengangkat konsep Boson Higgs atau yang populer disebut “God Particle”, sebagai refleksi filosofis tentang asal-usul materi.
“Pertanyaan mendasarnya adalah energi ini berasal dari mana. Ketika kita berbicara tentang partikel dasar, kita tidak bisa berhenti pada aspek fisik saja, tetapi juga makna di baliknya,” jelasnya.
Tuhan sebagai Realitas Non-Material
Elly menekankan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami dalam bentuk material seperti manusia. Dalam perspektifnya, Tuhan adalah pribadi non-material yang kehendak dan sifat-Nya tercermin dalam ciptaan.
Ia menyebut adanya keteraturan alam, kasih, dan perlindungan sebagai indikator keberadaan entitas tersebut. Contohnya, penciptaan terang dan atmosfer yang mendukung kehidupan manusia.
Selain itu, ia membedakan antara alam fisik yang terbatas oleh ruang dan waktu, dengan alam roh yang bersifat kekal dan tidak terbatas.
Diskusi Dinamis dan Reflektif
Seminar berlangsung dinamis dengan berbagai tanggapan dari peserta. Sebagian melihat pendekatan ini sebagai jembatan antara sains dan iman, sementara yang lain menekankan pentingnya menjaga batas antara ranah ilmiah dan keyakinan teologis.









