Venezuela dan Retaknya Etika Global

oleh -26 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada sesuatu yang benar-benar patah dalam wajah dunia hari ini. Bukan sekadar retak, tetapi runtuh secara moral. Dunia yang selama ini mengklaim telah dewasa oleh hukum internasional dan diplomasi, justru memilih diam ketika sebuah negara berdaulat dicabik secara terang-terangan.

Apa yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela bukan hanya agresi geopolitik, melainkan penghinaan terbuka terhadap gagasan peradaban itu sendiri.

Dengan dalih keamanan nasional dan perang melawan narkoterorisme, Venezuela diperlakukan seolah wilayah tanpa kedaulatan. Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, ditangkap bersama sang istri dan diseret seperti buronan lintas negara.

Dunia tahu ini bukan prosedur hukum internasional yang sah. Namun dunia memilih pura-pura tidak tahu. Di titik inilah barbarisme modern bekerja: bukan dengan teriakan liar, tetapi dengan bahasa legalistik yang dingin dan senyap.

Baca Juga  Makin Gila, RUU Kongres Akan Jadikan Greenland Negara Bagian Ke-51 AS

Tak ada yang benar-benar naif membaca motif di balik agresi ini. Venezuela adalah negeri dengan cadangan minyak terbesar di dunia, juga menyimpan kekayaan emas yang strategis.

Sejarah mengajarkan bahwa ketika sumber daya alam bertemu dengan ambisi kekuasaan, dalih apa pun bisa disusun. Demokrasi, stabilitas, hingga kemanusiaan, sering kali hanya berfungsi sebagai tirai bagi kepentingan ekonomi dan geopolitik.

No More Posts Available.

No more pages to load.