Venezuela dan Retaknya Etika Global

oleh -145 views

Di titik inilah relasi global perlu dibaca lebih utuh. Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel membentuk poros strategis yang solid. Keamanan Israel diposisikan sebagai kepentingan vital kebijakan luar negeri AS. Negara atau aktor mana pun yang secara terbuka menentang agresi Israel—baik di Timur Tengah maupun di luar kawasan—kerap masuk radar tekanan Washington.

Berhadap-hadapan dengan poros ini berdiri Iran. Iran bukan hanya penantang ideologis, tetapi simbol perlawanan terhadap dominasi AS–Israel. Namun Iran tidak bergerak sendirian. Ia membangun relasi strategis lintas kawasan, termasuk dengan negara-negara Amerika Latin yang berseberangan dengan Washington.

Hubungan ini bersifat politis dan simbolik: pesan bahwa perlawanan terhadap hegemoni global tidak mengenal batas geografis.

Baca Juga  Rata-rata Lama Sekolah di Kota Tual Capai 10,68 Tahun, Tertinggi Kedua di Maluku

Dari sini terlihat pola yang mengkhawatirkan. Tekanan di Timur Tengah memantul ke Amerika Latin. Perlawanan di Amerika Latin memberi legitimasi tekanan terhadap Iran. Venezuela pun menjelma laboratorium kekuasaan—uji coba sejauh mana dunia bersedia diam. Jika dalih ini diterima sekali, ia akan digunakan lagi, dengan konteks berbeda dan sasaran baru.

Kekhawatiran bahwa Iran bisa menjadi target berikutnya—langsung atau melalui tekanan berlapis—karena itu bukan paranoia. Normalisasi sedang dibangun secara perlahan: menggulingkan, menekan, atau mencaplok negara yang menentang poros kekuasaan global dianggap sah atas nama keamanan. Ketika kekerasan dinormalisasi, diplomasi kehilangan makna.

No More Posts Available.

No more pages to load.