“Kami telah menjalani 22 minggu agresi yang dapat digambarkan sebagai terorisme psikologis. Selama 22 minggu itu, mereka menguji kami, dan rakyat Venezuela menunjukkan cintanya pada tanah air,” ujar Maduro.
Ketegangan meningkat pada akhir pekan ketika Trump memperingatkan bahwa wilayah udara Venezuela harus dianggap “tertutup”, memicu kekhawatiran akan invasi militer langsung.
Trump mengakui bahwa dia baru-baru ini berbicara dengan Maduro melalui telepon untuk pertama kalinya sejak kembali menjabat pada Januari, meski tidak mengungkapkan isi pembicaraan itu. Maduro sebelumnya menyatakan dia siap berdialog langsung dengan Trump kapan saja.
Ratusan pendukung pemerintah Maduro turun ke jalan pada Senin, mengecam apa yang mereka sebut sebagai ancaman AS di tengah krisis ekonomi berkepanjangan dan gejolak politik di dalam negeri.
“Kami adalah tanah air yang bebas. Kami tidak ingin perang, kami ingin perdamaian!” kata Narciso Torrealba, pemimpin komunitas lokal berusia 68 tahun.
“Kami siap berdialog dengan siapa pun, tetapi tidak akan pernah menyerahkan kedaulatan negara, tidak akan menjual tanah air,” imbuh warga lainnya, Cirilo Cazorla (54), seperti dikutip AFP, Selasa (2/12/2025).
Sumber: sindonews









