Porostimur.com, Caracas – Presiden Venezuela Nicolas Maduro menegaskan bahwa negaranya tidak sudi “berdamai dengan menjadi kaum budak”. Itu sebagai respons atas ancaman militer Amerika Serikat (AS), yang menurut Maduro, telah menguji Caracas selama berbulan-bulan.
Pernyataan itu disampaikan Maduro pada hari Senin di hadapan ribuan pendukung yang memenuhi jalan-jalan Caracas.
“Kami ingin perdamaian, tetapi perdamaian dengan kedaulatan, kesetaraan, kebebasan! Kami tidak ingin damai [dengan menjadi] kaum budak, bukan pula damai layaknya koloni,” kata Maduro dalam pidatonya.
Ketika Maduro berpidato, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu para pejabat keamanan nasional Gedung Putih untuk membahas situasi Venezuela.
Washington telah mengerahkan kapal induk terbesar di dunia beserta armada tempurnya ke kawasan Amerika Latin, disertai serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh mengangkut narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur.
Sejak September, operasi militer AS tersebut telah menewaskan sedikitnya 83 orang tanpa bukti bahwa mereka adalah pengedar narkoba. Operasi militer Washington ini dinilai kelompok hak asasi manusia (HAM) sebagai tindakan ilegal—apapun status para korban.
AS beralasan bahwa pengerahan militer bertujuan memberantas perdagangan narkoba, namun Caracas menuding tujuan sebenarnya adalah mendorong perubahan rezim. Maduro merespons dengan meningkatkan kesiapan militer Venezuela.









