“Kalau Gerakan Pramuka mau terus eksis dan berkembang, maka harus membawa diri dalam era digitalisasi. Manfaatkan teknologi untuk efektivitas dan efisiensi kerja organisasi,” tegasnya.
Bodewin turut mengaitkan peran strategis Pramuka dengan berbagai persoalan sosial yang mengancam generasi muda di Kota Ambon, seperti meningkatnya kasus HIV, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, hingga tawuran.
“Generasi muda usia produktif adalah aset. Kita butuh dukungan Gerakan Pramuka untuk merangkul dan memberikan edukasi melalui teknologi ini agar mereka tetap berada di jalur yang benar demi masa depan yang lebih baik,” tandasnya.
Database Valid dan Real Time
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Maluku, Saiful Almaskati, menjelaskan bahwa aplikasi “Ayo Pramuka” merupakan langkah konkret Kwarnas dalam mentransformasi citra Pramuka agar tidak hanya identik dengan kegiatan tali-temali dan kemah, tetapi juga melek literasi digital.
“Bimtek Ayo Pramuka ini sangat strategis. Penggunaan aplikasi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan upaya mendasar untuk mempermudah pendataan dan mewujudkan database anggota yang valid, akurat, dan real time,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, selama ini klaim jumlah anggota Pramuka secara nasional mencapai sekitar 25 juta orang, namun belum didukung database terintegrasi yang kuat.









