Meski begitu, warga Rusia itu tetap pada pendiriannya, menegaskan bahwa perang harus segera dihentikan.
“Tapi kita harus mengakhiri perang saudara ini sehingga kegilaan ini tidak berubah menjadi perang nuklir. Saya berharap ketika putra saya lebih besar, dia akan mengerti mengapa saya melakukan ini,” ujarnya.
Pada awal pekan ini, Ovsyannikova telah ditawari Presiden Prancis Emmanuel Macron suaka atau bentuk perlindungan konsuler lainnya. Dalam pernyataannya saat itu, Macron juga menyampaikan bahwa dia akan membicarakan kasusnya dengan pemimpin Kremlin, Vladimir Putin.
Tapi Ovsyannikova telah mengatakan menolak tawaran tersebut, dan memutuskan untuk tinggal di Rusia. Hal ini terungkap dari wawancaranya dengan surat kabar Jerman, Der Spiegel, yang dirilis pada Kamis (17/3)
“Saya tidak ingin meninggalkan negara kami. Saya seorang patriot, anak saya terlebih lagi. Kami tidak ingin pergi dengan cara apa pun, kami tidak ingin pergi ke mana pun,” katanya.
Kepada Der Spiegel, Ovsyannikova lantas bercerita soal protesnya, mengaku bahwa aksinya itu ia persiapkan sendiri. Meski begitu, dia percaya banyak rekannya secara pribadi bersimpati padanya. Ovsyannikova mengungkap sebagian besar rekannya menyadari peran mereka dalam menyebarkan informasi yang salah.




