We Miss Rocky Gerung (Catatan untuk Ady Amar)

oleh -49 views
Dhimam Abror Djuraid

Oleh: Dhimam Abror Djuraid, Kolumnis tinggal di Surabaya

Saya baca kata per kata tulisan Ady Amar ‘’Sunyi yang Bernama Rocky Gerung’’. Dalam penuh makna. Pasti sangat banyak orang yang kehilangan Bung Roger (Rocky Gerung). Tapi, saya biasa-biasa saja, karena ada satu hal yang saya rasakan kurang pas bagi saya sejak awal, yaitu tidak adanya kerendah hatian intelektual, tidak ada etika intelektual, pada diri Roger.

Sebagai jurnalis 30 tahun saya pernah meliput dan mewawancarai intelektual hebat seperti almarhum Soedjatmoko, Cak Nur, Gus Dur, Romo Mangun Wijaya, Romo Magniz Suseno, Romo Muji Sutrisno, Umar Kayam, Kunto Wijoyo, dan masih banyak lainnya. Mereka semua adalah intelektual cum filosof kelas dewa.

Baca Juga  Saat Harga Diri Dimenangkan, Kemanusiaan Disisihkan

Tapi mereka semua sangat rendah hati kepada siapa saja dalam setiap forum intelektual.

Sikap itulah yang tidak kelihatan pada Roger. Mungkin, karena dia ‘’gak jowo’’, atau social upbringing-nya beda dengan kebanyakan kita, sehingga ia tumbuh menjadi manusia yang cerdas dan jago berdebat. Kemampuan logika, retorika, dan dialektikanya benar-benar ‘’sundul langit’’.

Dalam tradisi intelektualitas Islam dikenal adagium “al adab qobla al ilm” adab sebelum ilmu. Etika sebelum inteligensia. Sebelum mengaji kitab-kitab khazanah keilmuan seorang santri wajib belajar dulu kitab “adab al ilm”, etika keilmuan. Salah satunya adalah kitab “Ta’limul Muta’llim” karya Syaikh Al-Zarnuzi yang mengajarkan panduan lengkap para pencari ilmu (Saya pernah berangan-angan mau mengajarkan kitab itu kepada Roger, karena saya menduga jangan-jangan dia tidak pernah mendengar mengenai kitab itu).

No More Posts Available.

No more pages to load.