“Pemerintah perlu mengenali warga yang terus terpapar, menyediakan pertolongan sejak awal, dan menjaga kesinambungan perawatan bagi mereka yang kondisinya memburuk,” ujarnya.
Yahya menilai, identifikasi kelompok rentan, ketersediaan layanan medis, serta kesinambungan perawatan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko kesehatan akibat karhutla.
Karhutla Telan Korban Jiwa, Perlindungan Warga Harus Diperkuat
Selain tingginya angka ISPA, Yahya juga menyoroti jatuhnya korban jiwa dari kalangan relawan maupun masyarakat umum akibat bencana karhutla. Dampak kebakaran dan kabut asap bahkan meluas hingga dirasakan negara tetangga.
“Ini menjadi sebuah keprihatinan, bagaimana karhutla telah menjadi momok bagi banyak orang, bahkan warga negara tetangga juga ikut merasakan dampaknya. Kita harap pemerintah bisa melakukan berbagai intervensi untuk segera menyelesaikan karhutla,” tuturnya.
Data Kemenkes per 9 September 2026 mencatat empat orang meninggal dunia dan 347 orang mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
Salah satu korban meninggal dunia adalah Lisna, guru honorer di SDN Tanjung Pagar 3 Banjarmasin. Ia meninggal pada Minggu (27/9/2026) malam setelah mengeluhkan sakit di bagian dada. Kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah tersebut diduga memicu kambuhnya penyakit asma yang dideritanya.










