Yenny Wahid: Pendekatan Kekerasan Tak Selesaikan Konflik Papua

oleh -74 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Keputusan pemerintah melabeli kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua tidak boleh menggeser upaya untuk mewujudkan masa depan Papua yang sejahtera. Demikian disampaikan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid.

Yenny mengaku memahami penolakan aktivis hak asasi manusia (HAM) terhadap keputusan tersebut dengan mendorong pendekatan kemanusiaan lewat dialog menjadi arus utama. Hal itu, sambungnya, sejalan dengan langkah dan upaya Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam menyelesaikan beragam soal di Papua lewat pendekatan yang humanistik.

“Mewakili kaum perempuan, saya memahami dan meyakini betul bahwa pendekatan kekerasan dalam hal apapun tidak akan menyelesaikan persoalan, termasuk di Papua,” kata Yenny Wahid dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (30/4/2021).

Baca Juga  Thaha Alhamid: Otsus adalah Kesepakatan Bersama dan Solusi Politik untuk Papua

Yenny menilai keputusan pemerintah menetapkan KKB sebagai teroris berpotensi memunculkan lingkaran kekerasan baru. Menurut Yenny, kekerasan baru tersebut tentu menimbulkan trauma bagi generasi masa depan, termasuk anak-anak di Papua.

Meski demikian, kata Yenny bukan berarti pemerintah tidak bisa bersikap tegas. “Di sini saya perlu garisbawahi bahwa ketegasan berbeda dengan kekerasan. Ketegasan tetap wajib ditunjukkan terhadap hal-hal berkaitan dengan pelanggaran hukum dan konstitusi. Lebih-lebih terhadap tindakan yang dengan sengaja berusaha menginjak-injak nilai kemanusiaan itu sendiri,” ujar dia.

Yenny juga mengaku memahami baik keputusan pemerintah melalui Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Sebagai orang yang mengenal Mahfud, Yenny meyakini keputusan tersebut tidak bermaksud menihilkan pendekatan humanis dalam menyelesaikan persoalan secara holistik di Papua. 

Baca Juga  LSM Halemayora dan Masyarakat Sofifi Desak Gubernur Copot Kepala BKD Malut

“Karena itu pula, sekali lagi saya mengajak semua pihak tentu dalam porsinya masing-masing, untuk tetap bersama-sama mengawal dan mengupayakan agar siklus kekerasan tidak berlanjut di bumi Papua. Tekad kita satu, Papua sejahtera. Luka di Papua adalah luka seluruh Bangsa Indonesia. Senyum di Papua adalah senyum kita semua pula,” pungkasnya.

(red/alinea)