10 Fakta Puncak Carstensz di Papua, Lihat Foto-foto yang Bikin Merinding karena Indahnya

oleh -1.468 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Banyak hal mengejutkan tentang Puncak Carstensz, Papua.

Sebelum wisatawan umum mengenal Papua dengan Raja Ampat, para wisatawan lebih dulu mengenal Papua dengan Gunung Jayawijaya Gunung Carstensz.

Ini merupakan gunung tertinggi di Indonesia.

Puncak tertinggi di sana yaitu Puncak Jaya alias Puncak Carstensz alias Carstensz Pyramid (4.884 mdpl/meter dari permukaan laut).

Bagi para pendaki, mungking hampir semua pendaki memimpikan menginjakan kakinya di puncak gunung tersebut.

Ini 10 fakta tentang gunung Jayawijaya berdasarkan pengalaman (4) orang Summiters Indonesia asal Perhimpuan Kanal Maluku, Handoko, Bayu, Budi dan Rosna serta rangkuman dari berbagai sumber.

1. Selain Jayawijaya, Gunung Ini Memiliki 2 Nama Lainnya 

Puncak Gunung Cartenz

Pada mulanya, gunung ini bernama Carstenz Pyramid.

Penamaan tersebut dimaksudkan untuk menghormati orang yang pertama kali menemukannya, seorang petualang berkebangasaan Belanda, yakni Jan Cartenz, pada tahun 1623.

Kala itu, ia dianggap pembohong karena mengaku pernah melihat sebuah gunung tertutup salju di kawasan tropis, Indonesia.

Setelahnya, pada masa pembebasan tanah Irian dari penjajahan, namanya diubah menjadi Puncak Soekarno.

Hal ini ditujukan untuk menghormati presiden pertama di Indonesia.

Kemudian, dengan campur tangan politik, pada tahun 1960an, pada masa pergantian orde lama kepada orde baru, namanya diubah kembali menjadi gunung Jayawijaya.

Nama tersebut adalah nama yang dipakai hingga saat ini.

2. Heinrich Harrer Merupakan Pendaki Pertama yang Mampu Mencapai Puncaknya

Pada tahun 1962, untuk pertama kalinya puncak gunung Jayawijaya di jamahi oleh manusia.

Adalah Heinrich Harrer yang berhasil melakukannya, ia dibantu oleh 3 anggota ekspedisi lainnya, yakni Russell Kippax, Bertus Huizenga dan Robert Philip Temple.

Baca Juga  Mulai anarkis, unjuk rasa mahasiswa Unpatti dibubarkan polisi

Heinrich Harrer sendiri merupakan seorang pendaki yang sangat terkenal di dunia pendakian, setelah ia menuliskan pengalamannya dalam novel Seven Years In Tibet.

Kamu dapat menyaksikan kisahnya dalam film dengan judul yang sama, sebab novel tersebut sudah diangkat menjadi sebuah film.

Pendakian Heinrich Harrer di gunung Jayawijaya seakan menginspirasi para pendaki lainnya.

Pada tahun 1964, Letkol Azwar Hamid dan Direktorat Topografi Angkatan Darat berhasil mencapai puncak Jayawijaya.

3. Selain Menjadi Gunung Tertinggi di Indonesia, Cartenz Juga Merupakan Gunung Tertinggi di Benua Australia

Dengan ketinggian puncaknya yang mencapai 4.884 mdpl, gunung ini merupakan gunung tertinggi di Indonesia, juga sebagai gunung tertinggi di benua Australia dan menempati urutan ke-2.

Setelah gunung Hkakabo Razi (5.881 mdpl) di Myanmar, dalam jajaran gunung tertinggi di Asia Tenggara.

4. Statusnya Sebagai Anggota Seven Summit Dunia Masih Menjadi Bahan Perdebatan

seven summits of the world

Sampai saat ini, penetapan gunung Jayawijaya sebagai seven summit ke-7 di dunia masih menjadi perdebatan bagi beberapa kalangan.

Pasalnya, awal mula pencetusan world’s seven summit yang dicatat oleh Dick Bass mengacu pada gunung Kosciuzko sebagai anggota pada urutan ke-7.

Ia berdalih bahwa pendakian di gunung Jayawijaya memiliki jalur lebih terjal dan ekstrim dibanding pendakian di gunung Kosciuzko.

Pendapat Reinhold ini mengundang banyak dukungan dari para pendaki di pelosok bumi.

5. Gunung Jayawijaya Memiliki Jalur Pendakian yang Sangat Sulit Dilalui 

Bagi para pendaki di seluruh dunia, merupakan sebuah harapan, doa dan impian untuk dapat menapakan kaki di puncak Cartenz.

Baca Juga  Bioskop Dibuka Kembali, Ini Deretan Film yang Akan Ditayangkan!

Pasalnya, pendakian di gunung Jayawijaya termasuk aktifitas ekstrim, mengingat jalur di gunung satu ini sangat terjal dan cuaca di sana tidak menentu, terkadang melampaui kemampuan tubuh manusia.

Oleh karenanya, kemampuan fisik dan mental saja tidak cukup untuk menggeluti jalur pendakian gunung Jayawijaya.

Dibutuhkan juga kemampuan bertahan hidup, navigasi yang matang dan jumlah uang yang tidak sedikit, untuk menyewa guide, biaya transpotasi atau mempersiapkan berbagai peralatan pendakian yang dikenal sangat mahal-mahal.

6. Cuaca yang Sangat Ekstrim di Puncak Cartenz 

Hidup di atas ketinggian 4.000 mdpl itu bukanlah urusan yang mudah, jangankan bergerak bebas, bernafas pun sulit karena tipisnya kadar oksigen.

Selain itu, cuaca di puncak Cartenz tidak menentu.

Bila di daerah tropis lainnya kamu hanya bisa merasakan hujan air saja, maka berbeda saat di puncak Cartenz, kamu dapat menyaksikan hujan air, hujan es dan hujan salju.

7. Keberadaan Salju di Puncak Cartenz Merupakan Perlawanan Terhadap Hukum Alam 

Dalam hukum alam yang dikenal sejak zaman dahulu mengatakan bahwa mustahil ditemukan salju pada kawasan yang berada di garis katulistiwa, termasuk di Indonesia.

Namun nampaknya hukum alam tersebut tidak berpengaruh pada puncak gunung Jayawijaya.

Oleh karenanya, Jan Cartenz disebut pembohong, bahkan gila saat mengatakan bahwa di Indonesia, ia menemukan gunung Jayawijaya yang dilapisi salju.

Hingga 300 tahun kemudian, omongan Jan Cartenz terbukti, gunung Cartenz Pyramid berdiri gagah dengan salju di puncaknya.

8. Jayawijaya juga Memiliki Glester 

Glester di gunung Jayawijaya

Glester merupakan lapisan es yang terbentuk akibat tumpukan salju selama puluhan tahun dan sangat bermanfaat sebagai sumber persediaan air tawar untuk kawasan yang berada di sekelilingnya.

Baca Juga  Ekspirasi mendekat, napi makar dipindahkan ke Lapas Klas IIA Ambon

Karena keberadaan glester inilah puncak Cartenz disebut-sebut sebagai puncak salju abadi.

9. Pada Tahun 2022, Jayawijaya Dikabarkan Akan Kehilangan Lapisan Saljunya 

Salju di puncak Cartenz yang kian menipis

Dulunya Papua memiliki 3 gunung yang puncaknya dilapisi salju.

Yakni puncak Mandala yang kehilangan saljunya di tahun 2003, gunung Trikora yang kehilangan salju di tahun 1936 dan gunung Jayawijaya yang masih memiliki salju hingga saat ini.

Namun kabar buruk datang dari laporan BMKG yang diterbitkan pada tahun 2016, mereka berpendapat bahwa lapisan salju di gunung Jayawijaya akan mencair sepenuhnya di tahun 2022 mendatang.

Laporan ini merujuk pada catatan pengukuran salju yang dilakukan secara rutin sebagai berikut.

2010 : ketebalan es mencapai 31,49 meter

2015 : ketebalan salju menipis hingga 26,23 meter

2016 : ketebalan salju semakin menipis hingga 20,54 meter dan prediksi akan menghilang di tahun 2022.

Apakah gunung Jayawijaya akan bernasib seperti puncak Mandala dan gunung Trikora? Semoga saja tidak.

10. Pendakian di Gunung Cartenz Merupakan Pendakian Paling Mahal di Dunia

Dilansir nationalgeographic.co.id, bahwa puncak Cartenz merupakan salah satu tempat termahal di dunia.

Paling tidak, kamu harus menyediakan budget sebesar Rp. 18.000.000 jika ingin melakukan pendakian di gunung Jayawijaya.

Sulitnya transpotasi dan sedikitnya penyedia paket pendakian menjadi alasan utama, mengapa biaya pendakian ke puncak Cartenz amatlah mahal. (red/rtl)