27 Juli

oleh -322 views

27 Juli adalah tragedi tidak berkesudahan. Pertama ketika Orde Baru jatuh. PDI-P menjadi partai politik terkuat. Namun ketika ia berkuasa, dia dihadapkan pada dilema: merangkul kekuatan-kekuatan Orde Baru atau mereformasi total sistem poltiik dengan orang-orang yang baru pula.

Partai ini memilih yang pertama. Dia bahkan merangkul jendral-jendral yang dulu memukul massa arus bawahnya. Orang mungin berkilah bahwa poltiik itu pragmatis. Dan pragmatisme inilah yang memelihara tragedi 27 Juli ini tetap menjadi tragedi.

Semangat pragmatis yang sama terjadi berulang-ulang. Anak-anak muda yang dulu militan mengalihkan keahliannya dalam mobilisasi dan propaganda untuk menjadi pendukung para politisi yang dulu mereka musuhi. Beberapa dari mereka menjadi sangat berhasil — kaya dan berkuasa.

Baca Juga  AS Habiskan 200 Rudal THAAD untuk Bela Israel dari Serangan Iran, Sekutu Arabnya Diabaikan

Semakin lama mereka juga semakin ahli untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Dan sebagian besar waktu mereka berkuasa dipakai untuk membela diri dan menjelaskan mengapa mereka sekarang menjadi seorang gedibal.

Tentu keahlian mereka menyerang — khususnya juga menyerang mantan kawan sendiri — semakin tajam pula. Mereka menyebut yang tetap berprinsip sebagai SJW (social justice warrior). Atau sekarang mereka berusaha membikin narasi tentang betapa naif dan jahatnya para “polisi moral” yang mempertanyakan pelanggaran hal-hal prinsipil yang dulu pernah mereka pegang.
“Dunia berubah,” kata mereka sambil menutup pintu Mercedesnya. Yang berubah sesungguhnya adalah diri mereka sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.