Jika Kau Rindu, Sesekali Pulanglah
Duh. Dari sekian banyak majas yang kubaca
Tiap-tiap bait telah aku rasuki
Dari ribuan desah-desuh nafas kata yang berkepanjangan sekalipun
Aku takkan menemukan bait semewah ini.
(kepulangan-kepulangan)
Barangkali, dipunggung-punggung
Pun dibahu, tempat kita menaruh lelah.
Entahlah.
Biar semesta saja yang mengatur, kemana rindu seharusnya ia berpulang.
Kita tetap bertaut tangan sambil meraba-raba dada
Merapal doa
Memanen rindu yang jatuh berserahkah
Sebab pada kenyataan
Kenangan adalah mahar yang paling mahal
Wirda Slg
=========
Kepada Perempuan Yang Bermata Coklat
Sore itu, Di kedai kopi paling ujung.
Seorang Perempuan menyalakan Api dimata.
Alobar menghembus pelan-pelan.
Matahari berayun seperti nyalaan api unggun di bibir langit.
Nyalaan warna jingga nya membuat tubuhku melebur kedalam ruang-ruang puisi imajinasi dan nyata.
Merah-meronanya membikin rindu.
Disudut tempat kopi diracik
Kudapati lengan seorang perempuan yang sedang mengayung sebuah sendok takar.
Mendiami air mendidih kurang lebih 89° untuk menyeduh kopi.
Matanya yang coklat membikin hasrat.
Kedipan matanya.
Lipatan matanya.
Wajahnya.
Senyum serta wanginya seperti puisi-puisi Elegi.
Tak hanya kopi yang habis kuteguk.
Pun siang rela melepas senja dan menerima malam sebagai hadiah terindah.









