Oleh: Ady Amar, Kolumnis
TURUN gunung tentu bukan turun dari manjat gunung. Turun gunung ditarik menjadi makna struktural, dan itu bermakna semacam come back. Kembali hadir setelah lama meninggalkan “gelanggang” di mana dulu ia bergelut.
Turun gunung maknanya dipertegas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI ke-6. Presiden yang terpilih langsung dua periode di Era Reformasi. Lewat Pilpres yang nyaris tanpa kecurangan. Kenapa SBY sampai menegaskan mesti turun gunung. Ada apa sebenarnya?
Dalam Rapimnas Partai Demokrat, dalam pidatonya sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Dekokrat, didepan ribuan kader, SBY mencium akan adanya penyelenggaraan Pilpres 2024 yang penuh kecurangan. Sebuah antisipasi mantan jenderal yang punya penciuman tajam.

Tentu SBY tidak asal ngomong. Karena SBY bukan tipe pemimpin yang kerap obral kata penuh dusta. Semua yang disampaikan pastilah dengan penelusuran tajam dan terukur. Maka, turun gunung seorang SBY pastilah disyukuri mereka yang menginginkan pilpres akan berjalan relatif bersih dan jurdil.
SBY pun mengatakan, bahwa ia mencium adanya “pemaksaan” pemilu yang hanya diikuti dua pasangan capres/cawapres. Tentunya dua pasangan yang mendapat restu dari “genderuwo”, sebutan lain yang bisa disematkan pada oligarki.








