Sosok pria bernama Al Jahjah disebut-sebut sebagai salah satu tanda kiamat. Menurut sebuah hadits, kiamat tidak akan terjadi sebelum Al Jahjah menjadi penguasa.
Tanda kiamat tersebut terdapat dalam kitab-kitab tentang kiamat. Seperti kitab Nihayatul ‘Alam karya Muhammad al-‘Areifi dan kitab Al-Yaum al-akhir al-Qiyamat al-Syughra wa alamat al-Qiyamah al-Kubra karya ‘Umar Sulaiman al-Asyqar. Keduanya menyandarkan hal ini pada hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَذْهَبُ الْأَيَّامُ وَاللَّيَالِي حَتَّى يَمْلِكَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْجَهْجَاهُ
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Siang dan malam tidak akan musnah sebelum seseorang yang bernama Al Jahjah menjadi penguasa.” (HR Muslim)
Imam al-Qurthubi turut menyebutkan hadits tersebut dalam kitab At-Tadzkirah.
Menurut ‘Umar Sulaiman al-Asyqar dalam kitabnya, Al Jahjah adalah seorang laki-laki dari Qahthan. Menurut penjelasan Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya, Qahthan adalah nenek moyang seluruh orang-orang Yaman dan semua nasab mereka kembali kepadanya.
Adapun, dalam al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab Qabla al-Islam karya Jawwad Ali dikatakan, Qahthan adalah nama sebuah kota yang terletak di antara Sana’a dan Zabid (dua kota di Yaman).










