Oleh: M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi, Wakil Ketua ICMI Jatim
Sejarah politik Indonesia akan mencatat satu bab kelam: lakon dugaan kebohongan yang dijalankan secara konsisten oleh Joko Widodo. Dari masa awal kekuasaan hingga menjelang lengser, Jokowi membangun benteng citra dengan janji-janji yang memukau telinga rakyat, namun satu demi satu terbukti hanyalah fatamorgana.
Dulu, ia berjanji anak-anaknya tidak akan terjun ke politik. Faktanya, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep kini menjadi pemain utama panggung kekuasaan. Jokowi juga menggaungkan mobil Esemka sebagai karya anak bangsa yang konon sudah menerima ribuan pesanan—bahkan diklaim ada 6.000 unit inden. Nyatanya, Esemka hanya menjadi simbol propaganda yang menguap begitu saja.
Ia pernah mengatakan bahwa dikantongnya memegang dana Rp11 triliun untuk Pembangunan, dan dengan pongahnya semua bisa dilakukan, nyatanya sampai dia lengser juga tak pernah terbukti, justru hutang negara semakin menumpuk. Dia berlagak sebagai orang yang seolah menjadi korban sistem. Namun, di saat yang sama, proyek-proyek raksasa seperti Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang katanya tidak akan menggunakan APBN, justru menghisap uang negara. Begitu pula dengan Ibu Kota Negara (IKN) yang awalnya dijanjikan akan mengandalkan investasi swasta, tetapi akhirnya membebani rakyat.









