Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
Salah perhitungan ! Mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan penyerangan Amerika ke Iran pada tanggal 28 Pebruari lalu.. Amerika yakin, sekali serang, pimpinan terbunuh dan Iran menyerah. Maka, setelah penyerangan, Trump mengumumkan gencatan senjata.
Tapi, apa yang terjadi? Dalam hitungan jam, Iran balik menyerang. Kali ini, bukan hanya Israel yang jadi sasaran. Tapi juga semua pangkalan militer Amerika di kawasan teluk. Tak satupun sasaran yang lolos dari rudal Iran.
Iran membuat pernyataan: perang harus dituntaskan. Tak ada kata berakhir, kecuali Iran sendiri yang mengakhirinya dengan syarat: pertama, Amerika tidak akan menyerang lagi. Kedua, semua pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dibubarkan. Ketiga, embargo terhadap Iran dicabut.
Tiga syarat yang tidak hanya sulit, tapi tak mungkin bisa dipenuhi oleh Amerika. Kecuali satu yaitu cabut embargo terhadap Iran. Ketika Amerika cabut embargo, ini menjadi deklarasi kepada dunia bahwa Amerika kalah dan berada dalam tekanan Iran.
Kenapa Iran punya nyali untuk terus perang? Pertama, serangan Amerika telah menodai marwah bangsa Persi, terutama ketika membunuh Ayatollah Ali Khumeini yang menjadi simbol negara dan spiritual warga Iran. Serangan mematikan ini telah membangkitkan emosi dan spirit perlawanan Iran. Kedua, Iran punya teknologi perang dan stock alutsista yang setidaknya sedikit bisa mengimbangi Amerika untuk memperpanjang durasi perang. Ketiga, Iran pegang kartu truf di selat Hormuz. Di selat ini ada dua jalur vital. Petama, minyak dan gas. 20 persen minyak dunia lewat selat ini. Juga 25 persen gas dunia. Kedua, kabel optik di bawah selat Hormuz.










