Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Bangsa Indonesia belakangan ini sedang akrab dengan satu jenis tontonan nasional: skandal yang diputar seperti sinetron stripping tanpa episode tamat.
Belum hilang dari ingatan, publik ribut soal pagar laut, tambang nikel, mafia minyak goreng, korupsi BTS, sampai pejabat yang hartanya tumbuh lebih cepat dari padi musim hujan.
Belum selesai satu drama, datang episode baru seperti gerbong kereta bocor yang terus menumpahkan lumpur.
Kita marah tiga hari, bikin meme dua hari, lalu lupa di hari keenam. Negeri ini akhirnya mirip warung kopi politik: semua orang mengeluh sambil mengepulkan asap, tetapi tetap memesan racikan yang sama dari dapur yang sama.
Nah, di titik itulah tulisan teranyar Belén Fernández di Al Jazeera terasa seperti tamparan yang dicelup sambal setan. Pedasnya bukan di pipi, tapi di kesadaran.
Ia menyebut dunia hari ini sedang masuk fase “Everythinggate”: keadaan ketika semua hal sudah menjadi skandal, sehingga skandal itu sendiri kehilangan daya kejutnya.
Bayangkan alarm kebakaran yang berbunyi setiap menit. Pada akhirnya orang bukan lari menyelamatkan diri, tetapi malah tidur sambil menumpuk bantal di telinga.
Belén Fernández bukan penulis sembarangan. Ia kolumnis Al Jazeera yang lama menulis soal imperialisme Amerika Latin, Timur Tengah, dan kebusukan geopolitik global.










