Porostimur.com, Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinilai berupaya menutupi kegagalan strategi militernya dalam konflik dengan Iran, di tengah situasi perang yang belum menunjukkan tanda-tanda kemenangan cepat.
Sejumlah analis melihat, alih-alih mereda, konflik justru bergerak ke arah eskalasi yang semakin berbahaya, ditandai dengan peningkatan pengerahan pasukan serta retorika keras dari Trump dalam berbagai pernyataan publik.
Analis: Perang Tak Sesuai Rencana
Analis kebijakan luar negeri, Barbara Slavin, menilai langkah Trump mencerminkan upaya menutup kegagalan strategi awal.
“Dia mencoba menutupi jejaknya karena perang tidak berjalan seperti yang dia bayangkan,” ujar Slavin, seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, sejak awal Trump memperkirakan tekanan militer dan gelombang protes internal akan melemahkan pemerintahan Teheran. Namun hingga kini, Iran tetap bertahan dan bahkan masih mampu melancarkan serangan balasan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa kapasitas militer Iran belum sepenuhnya lumpuh, bertolak belakang dengan klaim pemerintah AS yang menyebut operasi hampir mencapai target.
Rombak Militer di Tengah Perang
Di tengah tekanan tersebut, Trump juga melakukan langkah kontroversial dengan mengganti Kepala Staf Angkatan Darat AS, Randy George.









