Oleh: Arbangi Kadarusman, Penulis
Langit malam di atas Provinsi Khuzestan, Iran barat daya, masih gelap ketika ledakan pertama mengguncang Lembah Karun. Jumat, 3 April 2026, pukul 02.00 dini hari waktu setempat, sistem pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mendeteksi dua bintik kecil di radarโbergerak cepat dari arah perbatasan Irak.
Ini bukan pesawat nirawak. Ini adalah F-15E Strike Eagle, pesawat tempur andalan Angkatan Udara Amerika Serikat yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris. Dalam hitungan detik, keputusan diambil. Rudal diluncurkan.
Pesawat itu tersambar. Salah satu kru berhasil menyelamatkan diri dengan kursi ejeksi ACES2โrekaman video yang beredar kemudian menunjukkan kursi kosong itu mendarat di lereng bukit. Yang satunya lagi? Tidak ada yang tahu. Yang pasti, untuk pertama kalinya dalam sejarah perang lima pekan ini, Amerika Serikat kehilangan pesawat tempur berawak di atas wilayah Iran.
Presiden Donald Trump segera mendapat laporan di Ruang Situasi Gedung Putih. Namun di lapangan, yang terjadi bukan sekadar operasi penyelamatan. Ini adalah pertempuran darat pertama antara pasukan reguler AS dan Iranโsebuah eskalasi yang mengubah seluruh peta permainan.
๐๐๐๐๐ค ๐๐๐ญ๐ฎ: ๐๐๐ญ๐ฎ๐ก ๐๐ข ๐๐๐ซ๐๐๐ญ๐๐ฌ๐๐ง ๐๐ฎ๐ ๐๐ซ๐จ๐ฏ๐ข๐ง๐ฌ๐ข








