Porostimur.com, Teheran – Iran mengklaim meraih sejumlah keuntungan strategis dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat pascakonflik yang berujung pada nota kesepahaman (MoU) kedua negara. Ketua Parlemen Iran sekaligus pimpinan tim negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut ada tiga poin utama yang menjadi “kemenangan langsung” bagi Teheran.
Pernyataan ini disampaikan di tengah sorotan global terhadap hasil diplomasi kedua negara, yang masih menyisakan sejumlah isu krusial meski gencatan senjata telah diberlakukan.
Pencairan Aset dan Celah Ekonomi
Salah satu poin terpenting, menurut Ghalibaf, adalah pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan oleh AS dan sekutunya. Ia mengonfirmasi bahwa dana beku senilai total USD12 miliar atau sekitar Rp214 triliun akan dilepas dalam dua tahap.
“Pengaturan awal dilakukan saat kunjungan ke Qatar, sementara penandatanganan akhir berlangsung di Swiss,” ujar Ghalibaf dalam wawancara dengan media pemerintah.
Ia menjelaskan, masing-masing tahap mencairkan dana sebesar USD6 miliar. Meski demikian, ia mengakui sanksi terhadap sektor minyak Iran secara formal masih berlaku karena kesepakatan final belum tercapai.
Namun, Iran disebut telah memperoleh pengecualian penting.
“Kami membutuhkan pengecualian agar bisa menjual minyak dan menjalankan aktivitas perbankan. Pengecualian ini kini telah diperoleh, dan perjanjian terkait sudah ditandatangani,” tegasnya.









