Porostimur.com, Doha — Konflik antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Sebaliknya, Teheran disebut berpeluang meningkatkan eskalasi dan mengambil langkah yang lebih ofensif dalam sekitar delapan pekan ke depan.
Prediksi itu disampaikan Mohamad Elmasry, profesor di Doha Institute for Graduate Studies, yang menilai Iran kini melihat momentum untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Elmasry, Iran tidak lagi berada dalam posisi hanya bertahan menghadapi tekanan militer maupun ekonomi Amerika Serikat.
“Faktanya, ada laporan yang diterbitkan oleh The New York Times yang menyatakan hal serupa, dengan mengutip pejabat intelijen AS yang meyakini bahwa pihak Iran akan lebih banyak mengambil langkah ofensif daripada defensif,” ujar Elmasry kepada Al Jazeera.
Ia mengatakan, Iran tidak akan terus membiarkan Amerika Serikat menentukan sendiri laju dan intensitas konflik.
“Mereka tidak akan lagi bersedia untuk sekadar diam dan membiarkan Amerika Serikat mendikte laju serta intensitas konflik tersebut,” katanya.
Elmasry menilai keputusan Iran untuk meningkatkan eskalasi juga tidak terlepas dari kalkulasi politik di dalam negeri Amerika Serikat.









