Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda
Menurut buku wisata, ada patung yang menarik di Stavoren,” kata Daphne, tetanggaku yang berlibur bersama kami. “Patung ‘Het Vrouwtje van Stavoren. Cerita tentang dirinya merupakan legenda di sini.”
“Yuk, kita cari!” kataku.
Pergilah kami beramai-ramai, berjalan kaki menjelajah berkeliling ‘kota’ Stavoren. Daphne, suaminya, dua anaknya dan seorang pacar anaknya yang sulung, Misoa, Si Bujang, Si Bungsu dan aku. Dari rumah, lewat satu-satunya supermarket besar di Stavoren, belok kanan lewat jembatan kayu menyeberangi air sungai yang dibelokkan ke kanal di belakang rumah. Lalu, lewat jembatan kayu satu lagi di atas sungai yang mengalir ke pelabuhan di tepi Ijsselmeer. Tibalah di kota. Jam tangan yang menghitung setiap langkahku mencatat 300 langkah dari rumah sampai ke kota (!).
Kami melewati galangan kapal di sebelah kanan, toko-toko pakaian, peralatan memancing, salon rambut, rumah-rumah cantik yang menawarkan penginapan di Bed n Breakfast serta rumah-rumah penduduk. Jalan yang ditelusuri membelah dua: sebelah kiri ke daerah permukiman, sebelah kanan ke daerah pusat kota dengan berbagai restoran, kafe dan di ujungnya, pelabuhan. Kapal-kapal pesiar yang mewah dan yang sederhana berlabuh di sana. Tiang-tiang layarnya menjulang seolah-olah hendak menusuk-nusuk langit. Layar-layar putih, terlipat dan terbuka ditambah dengan bendera-bendera yang berkibar di kapal-kapal itu membuat pelabuhan tampak meriah.




