Porostimur.com, Teheran – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Teheran menegaskan akan melancarkan serangan “panjang dan menyakitkan” terhadap posisi militer AS jika Washington kembali melakukan aksi militer, di tengah kebuntuan konflik yang masih berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di tengah situasi kawasan yang belum stabil, meski gencatan senjata telah berlaku sejak awal April. Iran juga menegaskan tetap menguasai Selat Hormuz, jalur vital yang saat ini masih ditutup dan berdampak besar pada distribusi energi global.
Jalur Energi Global Tersendat
Penutupan Selat Hormuz—yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia—telah memicu lonjakan harga energi serta meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Harga minyak mentah sempat melonjak tajam hingga menyentuh lebih dari USD126 per barel sebelum kembali turun ke kisaran USD114, seiring meningkatnya spekulasi eskalasi konflik.
Di sisi lain, upaya diplomasi belum menunjukkan hasil signifikan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menilai tidak realistis mengharapkan hasil cepat dari perundingan.
“Mengharapkan tercapainya hasil dalam waktu singkat, terlepas dari siapa mediatornya, bukanlah hal yang realistis,” ujarnya.









