Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Komite Nobel pada tahun ini memutuskan memberikan hadiah Nobel Perdamaian kepada dua jurnalis: Maria Ressa dari Filipina dan Dmitri A. Muratov dari Russia. Keduanya adalah pemimpin redaksi dan pendiri media independen di negaranya masing-masing.
Maria Ressa kita tahu memimpin Rappler. Dulu media ini punya edisi bahasa Indonesia dan sempat meramaikan jagat media di sini. Ijin Rappler sebagai media dicabut oleh otoritas di Filipina pada awal 2018.
Penyebabnya tidak lain adalah karena Rappler dengan berani membuka kebobrokan “perang melawan narkoba” yang dilancarkan oleh Presiden Duterte. Perang ini memakan kira-kira 30,000 nyawa dan korban-korbannya adalah rakyat kecil yang tidak bisa membela diri.
Sementara Dmitri A. Muratov adalah Novaya Gazeta, sebuah media investigatif di Russia. Media ini sesungguhnya didirikan oleh Mikhail Gorbachev, Presiden terakhir Uni Sovyet. Uang pendiriannya berasal dari sebagian hadial Nobel Perdamaian yang diterima oleh Gorbachev pada tahun 1990.
Sejak didirikan, enam jurnalis Novaya Gazeta telah terbunuh. Semua ini berkaitan dengan laporan yang mereka tulis. Tidak terhitung ancaman, pelecehan, dan intimidasi yang mereka terima. Namun media ini tetap berusaha tegak memberitakan apa yang harus diberitakan dan membuat penguasa bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan.









