Empat Puisi Rudi Fofid

oleh -668 views

DALAM LELEHAN TIMAH AIR MATA

mana bisa beta lupa Kariu
sedangkan pekik “Beta Pattiradjawane”
oleh pujangga seribu tahun
terus menggetarkan jiwa ragaku
sedangkan “Cerita Buat Dien Tamaela”
masih mengalir di badan sejarah
ole sio, mana bisa beta lupa Kariu
dalam lelehan timah air mata

mana bisa beta bale muka dari Ory-Pelauw
sedangkan puisi Matasiri yang beta tulis
masih beta lagukan saban kali jatuh rindu
pada Latuconsina, Salampessy, Tuasikal, Latupono
dan wajah-wajah yang memancar cahaya Maningkamu
sehingga beta bisa rasa getar cinta Hatuhaha
ole sio, mana bisa beta bale muka dari Ory-Pelauw
dalam lelehan timah air mata

o, di mana beta harus berdiri genggam tasbih
sambil doa rosasio dalam lelehan timah air mata
di kerut pipi Tongala seluas langit biru
beta bukan mesias pemadam api merah
tetapi betapa indah lahir lagi di puing abu
agar beta punya riwayat Haruku
hidup dan mati di tanah teramat keramat
mana bisa beta gantung muka di Kariu-Ory-Pelauw

Baca Juga  Kemarin Arsenal Dikejar-Kejar, Sekarang Waktunya Mengejar

Ambon, 10 Februari 2022

=========

CINTA ITU

Pada mulanya cinta berkecambah
Di dalam ragu dan prasangka
Adakah ketulusan di sana
Jangan-jangan cuma kepalsuan
Ah, begitu rawan
Bagai bertukar cium di bibir jurang

Maka cinta butuh latihan spiritual
Kau buka pintu jendela
Aku buka pintu jendela
Biarkan jiwa bicara dengan jiwa
Dengarkan suara-suara tak terdengar
Itulah suara-suara cinta

No More Posts Available.

No more pages to load.