Porostimur.com, Ambon – Jika Pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia dalam pembangunan peradaban, maka Pendidikan karakter berujung pada kesadaran mengenai Tuhan dalam posisi sebagai hamba dan khalifah. Dalam Islam akhlak berrelasi dengan khalik (pencipta, Tuhan) sehingga setiap orang yang berakhlak mengimplementasikan ajaran agama dan budaya yang bertujuan untuk ketertiban sosial (social order) demi mencapai kesejahteraan hidup bersama yang diupayakan secara sistemik dalam bentuk hidup bernegara.
Hal ini disampaikan Sosiolog IAIN Ambon Abdul Manaf Tubaka, dalam forum Business Matching dan Penguatan Ekosistem Kemitraan 2024 yang diselenggarakan Politeknik Negeri Ambon (Polnam) dan Politeknik Perikanan Negeri (PPN) Tual, Selasa (16/7/2024).
Menurut Manaf Tubaka, secara sosio-antropolgis, manusia Maluku telah dengan sadar dan sistematis mengajarkan pola pendidikan karakter secara informal.
“Persoalannya adalah apakah kita masih terdengar di telinga kita nasehat para tetua itu? dan apakah nasiha para tetua itu masih berlaku?,” ujarnya dengan nada tanya.
Dosen Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon ini menjelaskan, pendidikan karakter kena mengena dengan pendidikan akhlak, yaitu upaya sadar dan sistematis membentuk kepribadian manusia seutuhnya (jiwa dan raga) yang cinta pada kejujuran dan kebenaran
dan bertanggung jawab. Dalam Islam dikenal dengan Takhallaku bi akhlakillah.









