Di balik semua kepedihan dan kedegilan itu, hari ini saya membaca satu berita yang malah lebih degil lagi. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dikutip oleh media mengatakan bahwa tidak masalah Saipul tampil di TV. Dia akan menjadi “edukator” untuk kejahatan seksual.
Saya tidak tahu apa maksudnya. Hari ini saya membaca bahwa Saipul tidak boleh tampil menghibur. Ketua KPI juga mengatakan bahwa Saipul harus dibatasi gerak-geriknya. Dibatasi tapi boleh tampil di publik? Sebagai edukator? Sebagai bagian dari edukasi?
Saya sungguh tidak mengerti dengan cara berpikir para pejabat kita akhir-akhir ini.
Beberapa waktu lalu, seorang komisioner KPK mengatakan bahwa narapidana “survivor” korupsi alias koruptor akan menjadi instruktur yang memberi penyuluhan tentang bahaya korupsi!
Waktu itu, saya sempat berpikir, oh, jadi pemerkosa bisa mengajarkan soal pemerkosaan kepada anak-anak si komisioner ini?
Sampai kemudian ada pernyataan Ketua KPI, pikiran saya tiba-tiba menjadi kenyataan.
Saya tidak tahu bagaimana orang-orang dengan pikiran keblinger seperti ini sampai ke puncak-puncak kekuasaan di negeri ini. Mereka adalah pembuat kebijakan. Dalam hidup bernegara mereka adalah orang-orang yang membuat “common good” atau kebaikan bersama untuk semua orang di negara ini.









