Mari kita mengambil pelajaran bahwa Tuhan sendiri memberikan toleransi dan dispensasi kepada umatnya, sementara antarsesama umat terkadang tidak terdapat toleransi dan dispensasi itu.
Dalam praktek kehidupan, kita menyaksikan kejadian-kejadian yang pada hakekatnya bertentangan dengan inti ajaran agama yang dianut oleh kita. Ada pasien yang tidak diberi makan dan perawatan selayaknya hanya gara-gara ia tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit. Ada anak yang dikeluarkan dari sekolah karena orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah dan lain sebagainya. Masih banyak sikap anti-toleransi dan pro-diskriminasi di sekitar kita yang dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia yang tidak berdasarkan kemanusiaan tetapi berdasarkan kebendaan. Sikap semacam itu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip humanitas agama, antara lain yang merupakan elan vital dogma Kristen dan Islam.
“Kasihilah sesamamu manusia sebagaimana engkau mengasihi dirimu sendiri” (Mat.22:39)
“Tidaklah seseorang dikatakan orang percaya, kecuali ia mengasihi orang lain seperti mengasihi dirinya sendiri” (Hadits Nabi Muhammad S.a.w).
Kita merindukan para tokoh segala umat dapat menghadirkan agama berwajah Papua yang toleran dan damai dan menolak penafsiran Firman Tuhan berdasarkan nafsu dan pikirannya sendiri. (bersambung)









