Aktivis di Tikungan Kemenangan

oleh -14 Dilihat

Dan kita pun bertanya: di mana batas antara berjuang dari dalam dan tenggelam di dalam? Antara menyesuaikan diri dan menyerah? Antara menjadi realistis dan menjadi oportunis?

Barangkali garis itu telah lama kabur. Sebab pragmatisme politik telah menghapusnya, menjadikan pengkhianatan tampak logis, dan membuat orang lupa pada siapa dulu mereka berjanji setia.

Namun sejarah tak bisa dibohongi. Ia mencatat dengan dingin wajah-wajah yang menyeberang itu.
Mereka boleh menipu publik hari ini, tapi waktu akan menelanjangi semua alasan. Dan di lembar sejarah nanti, nama mereka tak akan tercatat di barisan pejuang, melainkan di daftar panjang para penyeberang—mereka yang menjual keyakinan dengan alasan mulia.

Baca Juga  Wali Kota Tauhid Soleman Luncurkan HAJAT ke-776 dan Festival Salawaku di Ternate

Tetapi tidak semua menyerah. Masih ada segelintir yang bertahan di jalan sunyi. Mereka tak punya panggung, tak punya jabatan, tapi punya keberanian untuk tetap miskin dan benar. Mereka tahu, kalah secara politik bukanlah kalah secara moral. Karena yang sejati bukanlah mereka yang berhasil masuk ke jantung kekuasaan, melainkan mereka yang tidak membiarkan kekuasaan masuk ke jantungnya.

Dan di tengah zaman yang semakin pragmatis ini, kesetiaan adalah bentuk perlawanan yang paling radikal. Sebab di dunia yang menertawakan idealisme, bertahan pada keyakinan adalah satu-satunya cara untuk tetap menjadi manusia. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.