Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Di jalan panjang perjuangan, selalu ada yang tersesat di tikungan kemenangan. Mereka yang dulu berteriak menentang kuasa, kini tersenyum manis di pelataran istana. Mereka yang dulu berdiri di atas keyakinan, kini bersila di pangkuan kekuasaan.
Tak ada rasa risih. Tak ada jeda untuk malu. Semua tampak biasa saja—seolah berpindah dari barisan yang dulu diperjuangkan menuju yang dulu dilawan bukan pengkhianatan, melainkan bagian dari perjalanan karier yang wajar.
Mereka tak menyebut diri pragmatis. Mereka bahkan percaya sedang berbuat luhur. “Kami ingin berjuang dari dalam,” kata mereka, “dari jantung kekuasaan.” Sebuah kalimat yang terdengar gagah, tapi sesungguhnya adalah bentuk paling halus dari pragmatisme politik—penyakit yang pelan-pelan membunuh moral di balik nama perjuangan.
Dulu, aktivisme adalah semacam iman. Ia dijalani dengan keberanian untuk kalah, dengan kesetiaan pada keyakinan, bukan pada pemenang. Seorang aktivis sejati tahu bahwa mempertahankan prinsip sering berarti kehilangan kenyamanan. Tapi kini, kata aktivis terdengar hampa. Ia menjadi profesi, bukan panggilan jiwa. Ia menjadi tiket menuju ruang ber-AC kekuasaan, bukan ke ruang perjuangan yang berdebu dan berpeluh.








