Aku, Kamu dan Tuan Berdasi Yang Ingkar Janji

oleh -41 views
Link Banner

Cerpen Karya: Nur Baeti

Rintik hujan siang ini yang jatuh ke tanah menyisakan aroma petrikor yang menenangkan. Matahari yang tertutup awan putih seakan malu untuk menampakan diri di siang ini, tetapi tidak melemahkan sinarnya untuk menerangi bumi. Di lahan luas yang dipenuhi tanaman padi terdapat seseorang yang sedang duduk di sebuah gubuk dengan rantang kecil yang digenggamnya. Ya itu adalah aku, orang-orang memanggilku Tari, remaja kampung yang ingin merubah nasibnya dengan melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Negeri ternama di Provinsi Banten.

Aku yang sedang menikmati kebahagian para petani yang sedang tertawa sambil memanen padinya. Terlihat dari raut muka petani yang seakan tidak ada masalah dalam dunianya, bergurau sambil melempar senyuman sesama petani. Makan bersama dengan hanya beralaskan terpal yang disimpan di atas tumpukan Jerami dengan daun kelapa yang menjadi peneduh. Tak lama kemudian seseorang menghampirinya.

“Tar, lagi ngapain?” ucap seseorang yang datang dari arah samping dan langsung duduk.
“ini tadi disuruh nganterin makanan terus keenakan deh di sini. hehe” jawabku sambil cengengesan.
“cape ya ternyata jadi mahasiswa. Banyak tugas” curhatku kepadanya.
“ngerjainnya sambil dinikmati aja nanti juga selesai. dulu kita memohon untuk bisa jadi mahasiswa, sekarang udah jadi mahasiswa ya laksanain tugasnya jangan ngeluh terus” ucapnya dengan bijak dengan pandangan lurus kedepan menikmati indahnya alam ciptaan-Nya.

“kamu sendiri mau ngapain Mel?” ya, dia adalah Imel, teman seperjuangan Tari yang mempunyai tujuan yang sama dalam mengubah nasibnya.
“tadinya cuma mau keluar, bosen di rumah terus. Eh terus liat kamu, kesini deh jadinya” jawab Imel.
“tadi sebelum ke sini aku sempat melihat berita di tv” lanjut imel.
“berita apa?” tari langsung menoleh kearah imel.
“itu Azis Syamsudin wakil ketua DPR RI yang korupsi dari partai golkar” jelas Imel dengan nada kesal.
“hadeuh.. emang ga bakal jauh-jauh sih antara politisi sama korupsi” ujarku dengan masabodo.
“kadang tuh heran sama mereka, udah kerja di ruangan ber ac, gaji gede masih aja korupsi. Wakil ketua lagi” ucap Imel yang makin kesal.
“pas menyalonkan diri aja janji-janji yang keluar manis banget. Ujung-unjungnya apa?” Imel memang seperti itu, jika membicarakan tentang politik antusias banget.
“liat mereka, pakaian kucel, tenaga terkuras, tapi malah memberikan banyak manfaat bagi kita” lanjut Imel sambil menunjuk para petani.

Baca Juga  Masuk Mall di Ambon Wajib Gunakan Aplikasi Peduli Lindungi

Memang jika Melihat mereka yang berpakaian penuh dengan debu, terpapar langsung oleh cahaya matahari, sampai keringat yang menetes di dada tetapi membawa kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar. Lantas, bagaimana dengan mereka yang bekerja menggunakan pakaian rapih, tanpa kotor sedikit pun, duduk di kursi yang megah dengan penyejuk ruangan yang tidak ada hentinya dan dijamin kehidupannya oleh negara, tetapi malah membawa kesengsaraan bagi masyarakat. Siapakah dia?.

“yang korupsi mah tak pandang bulu mel, apalagi yang ingkar janji” ucapku yang mulai tertarik dengan pembicaraan.
“sampe ke presiden ingkar janji hahah” ucap Imel dengan seenaknya.
“tenang. kita sudah menjadi mahasiswa jadi bebas berpendapat hehe” lanjutnya saat melihat raut mukaku yang datar.

Ya, aku tahu seorang mahasiswa memang mendapatkan hak kebebasan untuk berpendapat tentang apapun yang menyangkut bumi pertiwi. Terutama dalam membela rakyat kecil yang selalu ditindas oleh mereka para politisi yang mempunyai kedudukan. Melihat kenyataan dari janji janji yang sudah dilontarkan yang begitu bertolak belakang. Negeri yang penuh dengan permasalahan terutama yang timbul dari oknum para politisi yang tidak bertanggung jawab. Janji janji yang diberikan hanya berlaku saat pemilihan bahkan ada yang sampai tidak terlaksanakan.

Baca Juga  Gelar Razia Pekat, Polres Sula Amankan Tiga Pasangan Bukan Suami Istri dari Penginapan

“inget ga saat bapak joko mencalonkan diri menjadi presiden pas periode awal? Dia bilang mau memperkuat KPK katanya” ujar Imel mengingat masa-masa itu.
“Intinya kita harus memperkuat KPK. Sudah intinya ke sana” (ucapan joko Widodo saat di mabes TNI, Cilangkap, Jakarta timur).
“tapi apa? kenyataannya malah melemah” lanjutnya

Apa yang diucapkan Imel itu memang adanya. Seperti yang kita ketahui, dunia politik tidak akan terlepas dari mereka yang korupsi. Politisi dan korupsi seakan menjadi kata yang saling beriringan dan tidak dapat terpisahkan. Maka dengan adanya janji yang diucapkan oleh presiden periode 2014-2019 yaitu Ir. H. Joko Widodo diharapkan para pencuri uang negara akan semakin berkurang dan akhirnya tidak ada. Tapi, apa yang terjadi? KPK menjadi semakin melemah saat dimunculkannya UU KPK yang di dalamnya terdapat poin soal dewan pengawas. Lalu? Apakah ini janji yang dimaksud oleh anda bapak jokowi yang terhormat. Tentu tidak! kenyataannya sangat bertolak belakang dengan apa yang diucapkan oleh anda.

“tau ga, pas ditanya wartawan apakah akan ada perppu untuk mencabut UU KPK bapak joko jawab apa?” tanya Imel.
“apa?” tanyaku karena jujur aku jarang melihat berita yang seperti itu.
“ngga ada. Gitu jawabnya” jawab Imel karena dia memang sering melihat berita seperti itu.
“jawaban Jokowi gitu?’ tanyaku dengan penasaran dengan muka serius.
“iya. Itu saat diwawancarai oleh wartawan di Istana Negara di Jakarta” jelas Imel seakan dia tidak mau dianggap berbohong.

Baca Juga  Lakukan Monitoring, DPRD Komisi I DPRD Halsel Bakal Proses Hukum Aduan Masyarakat Desa Tawa

Pencuri uang Negara semakin merajalela karena melemahnya KPK, mereka yang di amankan oleh pihak kepolisian seakan tidak melakukan tindakan kejahatan. Apakah ini yang disebut tikus berdasi? Mereka yang selalu mencuri uang negeri?.
“bapak joko tuh kalo ngomong manis banget, tapi yang keluar pahit” dengan spontan Imel berbicara seperti itu.
“yang Jokowi minta dikritik juga kan Mel?” pancing ku pada Imel.
“nah iya itu, mintanya sih dikritik tapi saat dikritik malah gitu” jawab Imel dengan nada ketus

Masih ingat dengan pidato Jokowi dilaporan tahunan ombudsman 2020? Katanya sih merindukan kritikan dari para pemuda negeri, tapi saat sejumlah mahasiswa turun ke jalan untuk melaksanakan aksi demonstrasi malah dikerasi. Lantas, apa yang terjadi? Mereka tidak didengar tapi dibungkam. Bahkan ada sejumlah masyarakat yang mengkritik malah terjerat hukum dengan alasan pencemaran nama baik, jelas ini sangat bertolak belakang.

“sebenarnya tujuan utama mereka apa sih? Mau memajukan negeri atau memang sekedar bisnis melalui politisi dan akhirnya ingkar janji dan korupsi?” ucap imel dengan raut muka seakan berfikir.
“tanpa kita sadari obrolan kita tuh merujuk ke pendekatan behavioralisme tau” jelasku memberi tahu Imel.
“eh iya ya? Pendekatan perilaku itu kan ya?” tanya Imel dengan kebingungan tapi dengan senyuman.
“betul banget sih…” jawabku sambil kegirangan.
“eh udah dulu ya, takut dicariin, soalnya tadi ga bilang mau kesini” ujar Imel sambil melenggang pergi
“iya, udah sana” jawabku dan ikut pergi.
Obrolan merekapun terhenti karena matahari yang mulai pergi dan waktu menunjukan pukul tiga sore hari. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.