Alkatiri Harap Proyek Air Bersih Dikelola Secara Profesional

oleh -55 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Program pengadaan air bersih sering menjadi masalah di Maluku, baik itu di Kota Ambon maupun di kabupaten/kota lainnya.

Hal ini disampaikan anggota Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Fauzan Husni Alkatiri kepada wartawan di Balai Rakyat Karang Panjang Ambon, Jumat (21/5/2021).

“Program pengadaan air bersih itu di mana-mana menjadi masalah. Di Kota Ambon misalnya di Dusun Mahia, itu ada alatnya tapi tidak keluar airnya, sampai sekarang masyarakat masih kesulitan air bersih dan hari ini kita dengar juga hal yang sama terjadi di Dusun Tanah Merah, Desa Liang, Kabupaten Maluku Tengah”, ujarnya.

Berdasarkan pemberitaan beberapa media, terkait masalah air bersih di Dusun Tanah Merah, Akatiri mengatakan bahwa proyek Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (Pamsimas), yang berada di bawah tanggung jawab Balai Cipta Karya perlu diketahui informasinya secara detail. Oleh karena itu, hal ini akan diperhatikan oleh DPRD Provinsi Maluku khususnya Komisi III ketika nantinya melakukan pengawasan.

“Kita dari Komisi III, secara resmi akan memulai pengawasan di Maluku Tengah dan Kota Ambon pasca tutup buka masa sidang ketiga ini tentu ini menjadi informasi yang penting untuk kita, ketika nanti turun melakukan pengawasan”, tandasnya.

Baca Juga  Rotan Jadi Simbol Kedisiplinan dan Edukasi Protokol Kesehatan di Kota Ambon

Alkatiri berharap, program pengelolaan air bersih ini dapat dikelola secara profesional dan secara baik, karena beberapa wilayah di Maluku sudah hampir berada pada titik krisis air bersih.

“Secara pribadi, saya menginginkan pengelolaan air bersih ini betul-betul bisa dikelola secara profesional. Jangan sampai pengelolaan air bersih ini dikelola secara amatiran dan dikelola tanpa perencanaan yang matang”, ujarnya.

Menurutnya, ada juga beberapa pekerjaan di Balai Cipta Karya maupun di Balai Wilayah Sungai ataupun di Dinas PU yang tidak melalui proses perencanaan yang matang sehingga terjadi masalah dalam pekerjaan tersebut.

“Masa ada pengelolaan pengeboran air bersih sampai pada titik yang maksimal, tapi belum keluar airnya. Ini bagi saya, kesalahan perencanaan atau bisa dibilang bahwa konsultan perencanaannya yang abal-abal, tapi kita lihat di Balai Cipta Karya maupun Dinas PU sendiri, belum ada evaluasi yang baik juga tentang bagaimana proses atau program perencanaan sehingga begitu pelaksanaan programnya, itu dia bisa berjalan secara baik”, tutupnya. (alena)

No More Posts Available.

No more pages to load.