Selanjutnya, Pemkot juga diperhadapkan dengan regulasi dengan memberikan sanksi tegas kepada mereka yang melanggar, sebab Pemkot masih kurang dalam sarana dan prasarana yang dimiliki. Kelima, kota Ambon juga dihadapkan dengan persoalan sampah perbatasan dimana masyarakat dari kabupaten maluku tengah tidak dilayani oleh angkutan sampah sehingga mereka kerap membuang sampah di area yang berbatasan dengan kota Ambon.
“Ke enam; kita juga memnghadapi persoalan sampah di laut, karena ada 104 saluran terbuka, sungai kecil, yang bermuara di Teluk Ambon dan itu berdampak. Serta yang terakhir; topografi kota Ambon yang membuat armada sampah tidak dapat melayani masyarakat di beberapa tempat sehingga turut berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Retribusi Sampah,” jelasnya.
Hehamahua berharap dengan kehadiran kapal plastic Odyssey dapat membantu kota Ambon sebab pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan dalam mencari solusi terhadap persoalan sampah saat ini.
Sementara itu, Co-Founder & Head Of Communication Plastic Odyssey, Alexandre Deschelotte menyampaikan terima kasih atas sambutan yang diberikan baginya dan para kru, sebab ini pertama kalinya kehadiran mereka di Indonesia.










