Ambon, Suatu Hari di Idul Fitri

oleh -15 Dilihat

“Nyong, kalo nanti nae oto ini bisa singga di Air Kuning toh ?.” (Bang apakah angkot juga bisa singgah di Air Kuning ? ). Tanya si ibu sebelum naik. “Nanti kalo su di Air Kuning, tolong kas turung katong disitu jua eh” (Nanti kalau sudah di kawasan Air Kuning, turunkan kami disitu ya ?.). Sambung si ibu seolah meminta.

Seperti biasa, suasana dalam angkot kembali datar. Hanya ada beberapa cerita-cerita kecil si sopir dengan seorang Ibu yang duduk di depan. Beberapa penumpang lain yang mulai turun juga telah mengurangi sesak di angkot. Si Ibu yang duduk di bangku depan, sedang bicara tentang padatnya rumah-rumah penduduk di daerah Kebun Cengkeh.

Baca Juga  TMMD ke-130 Kodim 1504/Ambon Resmi Dibuka, Bangun Jalan hingga Rehab Rumah Warga

“Daerah-daerah sini su padat eh ? (Kawasan di sekitaran sini sudah padat ya ? ). “Iya ibu, daerah-daerah sini parsis deng di bagiang-bagiang Kudamati, Benteng ka atas-ka atas tuh jua. Su seng ada tana kosong spanggal sini lae”. (Ia Ibu. Kawasan di sini persis di kawasan Kudamati, Benteng dan ke atasnya. Hampir tak ada sepetak lahan kosong). Jawab si sopir.

Angkot kami makin melambat karena macet di perempatan Kebun Cengkeh. Sesekali berpapasan sesak dengan rombongan konvoi yang menggunakan busana-busana muslim rapi, lengkap dengan kopiah. Sedangkan, cerita si sopir dan ibu tadi, terus berlanjut. Keduanya saling bertanya dan memperkenalkan lokasi-lokasi di sepanjang kawasan Kebun Cengkeh.