Dua orang yang saling bercerita dan memperkenalkan wilayah-wilayah tinggalnya di angkutan kota adalah gambaran tentang adanya upaya penemuan kembali jejak-jejak masa lalu yang intim antara Kristen dan Muslim sebelum akhirnya dicerai beraikan oleh konflik lalu dikapitalisasi secara seremonial lewat narasi toleransi dan multikulturalisme gimmick. Dimana orang hanya menegosiasikan persaudaran dan perdamaian di Maluku untuk melayani fantasi politik seperti Pilkada ataupun jabatan-jabatan politik lain (Bandingkan dengan catatan penelitian Cahyo Pamungkas, Agama, Etnisitas dan Perubahan Politik di Maluku, 2016).
Dua orang yang sedang bercakap dengan kaget karena segregasi spasial yang ketat mencerminkan masih lebarnya jurang perjumpaan agama-agama dalam kehidupan sehari-hari pasca konflik Ambon. Keduanya tidak berusaha melepas identitas apapun berdasarkan agama, melainkan membawa agama sebagai perkenalan-perkenalan spontan dan alami untuk saling mengabarkan tentang lokasi-lokasi muslim dan kristen yang tidak mereka ketahui pasca konflik. Ibarat dua orang saudara yang dipisah bertahun-tahun lalu bertemu kembali secara mendadak. Ini adalah gambaran situasi akar rumput yang solid dan saling menemu kenali (reinventing) sebelum akhirnya diceraikan oleh konflik. Berbeda dengan laku elit politik di Maluku yang cenderung menggarap persaudaraan antar agama sebagai sarana menegosiasikan kepentingan politik struktural saja.




