Ambon, Suatu Hari di Idul Fitri

oleh -15 Dilihat

Keterpisahan tempat tinggal dan percakapan keduanya juga sedang menyiratkan bengisnya stigma simbolik yang lahir pasca konflik, dimana orang melakukan identifikasi spontan yang seenaknya berdasarkan sebutan atau panggilan sehari-hari. Misalnyaa saat dipanggil “usi, bu, nyong, oma atau opa” seseorang spontan teridentifikasi sebagai orang Kristen. Sebaliknya jika dipanggil “abang, caca, tete atau nene” maka diidentifikasi sebagai muslim. Simbolisasi yang terbentuk secara spontan karena konflik dan segregasi fisik.

Percakapan biasa dua orang Ambon di Angkot tersebut sedang membuka penelusuran baru tentang pentingnya persaudaraan. Mereka saling mencari dan memperkenalkan profil agama masing-masing melalui lokasi-lokasi tempat tinggal atau kunjungan silaturahmi.
Si sopir memperkenalkan lokasi-lokasi muslimnya, si ibu juga sedang meluapkan keingintahuannya tentang lokasi-lokasi saudara muslimnya setelah lama terpisah. Persis pada saat yang sama keduanya sedang merayakan perjumpaan dan perkenalan-perkenalan yang alami, tanpa dipaksa, disetting atau diatur melalui workshop-workshop interfaith dan proyek politik seremonial untuk mencitrakan persaudaraannya.

Baca Juga  Bapenda Halsel Benahi Data PBB-P2, Dorong Kepatuhan Wajib Pajak

Andai saja konflik tak mensegregasi keduanya, mungkin saja tradisi saling kunjung atau silaturahmi itu akan terbentuk dengan sangat alami dan sangat biasa tanpa perlu kaget atau saling bertanya soal kawasan dan tempat tinggal. Kedua orang tadi, si ibu dan sopir, adalah korban dari segregasi spasial yang mencoba menemukan jalan keluar dengan saling bertanya dan berkenalan melampaui batas-batas agama yang berbasis kewilayahan (beyond the geographic borders). Ini adalah perdamaian biasa yang dilakukan oleh orang-orang biasa di akar rumput, namun berdampak dengan sangat luar biasa untuk Ambon. (*)