Ambon, Suatu Hari di Idul Fitri

oleh -15 Dilihat

Kedua, adalah kawasan yang ditinggali oleh kelompok Asia Timur seperti China, Arab dan India. Di Ambon, kawasan ini identik dengan kawasan air mata China atau umum disebut Pacinan. Mereka menduduki struktur kelas dua sebagai perantara atau pedagang. Dengan berdagang mereka menjadi broker yang menghubungkan kelas penguasa dengan pribumi. Kawasan yang ketiga adalah kawasan bagi penduduk pribumi yang majemuk–atau disebut juga Inlandsche Burgerij (Furnivall, 1967). Di Ambon sendiri, pemetaan wilayah (segregasi spasial) oleh Belanda mengikuti persebaran agama dan etnis. Ini adalah proyek politik devide et impera Belanda yang digunakan untuk mengontrol aktivitas dan pergerakan masyarakat pribumi di daerah manapun.

Segregasi tersebut makin menguat pasca konflik Ambon. Kategorisasi wilayah berdasarkan agama cenderung di komunitas islam pelan-pelan mulai melebur. Pasca konflik, orang-orang muslim Arab tidak lagi terpisah melainkan menyatu dengan orang-orang muslim lokal. Seperti di Batumerah, Waehaong atau Silale. Sedangkan, orang Kristen tinggal di kantong-kantong penduduk yang berbeda dengan orang Muslim.

Baca Juga  Sofifi Belum Punya Kode Wilayah, Komisi II DPR Desak Kemendagri Segera Cari Solusi

Damai Sehari-Hari

Perdamaian sebenarnya tidak ditemukan di workshop-workhsop ilmiah atau di acara-acara seremonial politik, kampus dan kepejabatan, melainkan ditemukan pada aktivitas sehari-hari warganya di akar rumput. Situasi dimana orang berdamai tanpa menyebutnya sebagai damai. Ini perdamaian yang sesungguhnya, karena dilahirkan dari praktik dan bukan jargon. Perbincangan sopir dan seorang ibu di atas adalah contoh penting tentang persaudaraan dan perdamaian di Maluku. Perdamaian tersebut berlangsung tanpa dikapitalisasi oleh proyek-proyek toleransi, workshop, seremoni perdamaian atau aktivitas gimmick lainnya. Perdamaian keduanya berlangsung secara natural dan biasa tanpa perlu menyebutkan itu sebagai damai.