Konflik & Kebingungan
Orang-orang Muslim dan Kristen tak mungkin akan kebingungan dan saling bertanya sedemikian rumit tentang daerah-daerah yang sekarang ditinggali secara terpisah, jika saja mereka tak barkonflik 21 tahun lalu. Seorang Muslim atau Kristen setidaknya bisa menghafal betul lokasi-lokasi di kawasan Kristen maupun Muslim karena terbiasa saling berkunjung. Namun, konflik agama saat itu memang kejam dan bejat. Ia tidak saja memperkuat segregasi spasial di Ambon namun juga membentuk segregasi simbolik yang mengendap dengan sangat kuat di benak orang-orang muslim dan kristen.
Pasca konflik, orang secara diam-diam masih saling mengidentifikasi dengan sikap saling curiga (prejudice) berdasarkan tempat tinggal, gambar, wajah, logat, dan jenis panggilan. Jika anda mengaku tinggal di Benteng atau Kudamati maka orang tahu persis bahwa anda adalah Kristen. Mereka sontak akan mensimulasi segala ucapan dan perbuatan untuk menghargai anda atau mencairkan suasana. Orang-orang Ambon pasca konflik berusaha untuk mensimulasikan dirinya dalam pemakluman-pemakluman tersebut untuk menghindari segala jenis ketersinggungan. Sebaliknya, jika tinggal di Kebun Cengkeh atau Batumerah, sudah pasti anda adalah muslim. Daerah-daerah itu ditinggali secara terpisah berdasarkan pembilahan agama.




