Ambon, Suatu Hari di Idul Fitri

oleh -15 Dilihat

“Kebun cengkeh ini sampe ka balakang-balakang sana itu su ada rumah-rumah samua eh”. (Kawasan kebun cengkeh ini hingga ke bagian belakang ke arah ana, sudah terdapat rumah-rumah penduduk). Ucap si sopir sambil menunjuk sekitar perempatan kebun cengkeh.

“Luas lai padahal eh. Kalo itu apa lai ?”. (Luas juga ya, kalau kawasan itu namanya apa ?). Si ibu bertanya. “Kalo itu tuh, yang orang bilang-bilang Gadihu. Akang sampe ka balakang sana tuh, turun tanjakan ini sampe maso-maso ka bawa”. (Kalau itu kawasan Gadihu. Kawasannya hingga ke bagian belakang). Jawab si sopir sambil menunjuk ke bagian kanan jalan. Percakapan-percakapan itu lalu makin santai dan lebih biasa. Berbeda saat pertama naik ke angkot.

Baca Juga  Kabut Asap Selimuti Ambon, Reza Mony Desak Pemda Pertimbangkan Sekolah Daring

Saya yang terus membuntuti perbincangan kedua orang ini, coba mendengar lebih dalam lagi pertukaran-pertukaran cerita mereka. Sesekali saya mendengar dengan baik pertanyaan dan jawaban keduanya, sembari merenungkan situasi persaudaraan di Ambon, kota yang pernah di dera konflik agama 21 tahun lalu. Persis sebelum akhirnya tersegregasi dengan sangat ketat seperti sekarang. Kalau saja, konflik tidak terjadi, maka orang-orang muslim dan kristen bisa “maso-kaluar (saling mengunjungi)” lebih intens tanpa canggung, layaknya saudara sendiri.