Amerika Dibayangi Resesi Ekonomi

oleh -36 views

[carousel_slide id=’12211′]

porostimur.com | New York: Amerika Serikat (AS) menghadapi potensi resesi atau mini krisis. Kondisi tersebut terlihat dari indikator-indikator krisis.

Dilansir dari Kumparan.com, Reuters menulis, pemicunya adalah dampak dari perang dagang antara China- AS yang tak kunjung usai sejak awal 2018. Kedua negara saling mengenakan tarif atas produk impor.

Terbaru Presiden AS Donald Trump menunda pengenaan tarif 10 persen untuk produk-produk tertentu asal China pada 1 September. China sebelumnya membalas aksi Donald Trump dengan memperlemah mata uang yuan untuk mengkompensasi pengenaan tarif dari AS.

Atas dampak perang dagang terhadap potensi resesi AS, beberapa ekonom memprediksi Bank Sentral AS, the Federal Reserve (the Fed) akan memangkas suku bunga acuan pada September dan tahun depan untuk merespons potensi resesi. Morgan Stanley memprediksi resesi akan terjadi pada kuartal III-2019.

Baca Juga  Marceau Haurissa Terpilih sebagai Direktur Poltek Negeri Ambon Periode 2026–2030
Sebuah layar di lantai Bursa Efek New York, Amerika Serikat, menunjukkan indeks Dow Jones yang anjlok 767 poin pada 5 Agustus 2019. Indeks Dow Jones kembali anjlok hingga 800 poin pada perdagangan hari Rabu (14/8/2019) waktu setempat. Justin Lane /EPA-EFE

“Goldman Sachs Group menyebut pada Minggu tentang kekhawatiran eskalasi perang dagang yang memicu resesi dan Goldman tidak berharap banyak kesepakatan dagang AS-China bisa tercapai sebelum Pilpres AS 2020,” tulis Reuters, Senin (19/8).

Meski masih prediksi, namun the Economist dan Reuters menulis soal tanda-tanda resesi. Pertama, kupon atau imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun terus turun dan nilainya lebih rendah dari kupon surat utang bertenor jangka pendek (3 bulan). Ini menunjukkan ketidakpastian terhadap ekonomi jangka panjang. Surat utang pemerintah bertenor 10 tahun tercatat terendah sebelum Pilpres 2016.