Amerika Dibayangi Resesi Ekonomi

oleh -47 views
Link Banner

[carousel_slide id=’12211′]

porostimur.com | New York: Amerika Serikat (AS) menghadapi potensi resesi atau mini krisis. Kondisi tersebut terlihat dari indikator-indikator krisis.

Dilansir dari Kumparan.com, Reuters menulis, pemicunya adalah dampak dari perang dagang antara China- AS yang tak kunjung usai sejak awal 2018. Kedua negara saling mengenakan tarif atas produk impor.

Terbaru Presiden AS Donald Trump menunda pengenaan tarif 10 persen untuk produk-produk tertentu asal China pada 1 September. China sebelumnya membalas aksi Donald Trump dengan memperlemah mata uang yuan untuk mengkompensasi pengenaan tarif dari AS.

Link Banner

Atas dampak perang dagang terhadap potensi resesi AS, beberapa ekonom memprediksi Bank Sentral AS, the Federal Reserve (the Fed) akan memangkas suku bunga acuan pada September dan tahun depan untuk merespons potensi resesi. Morgan Stanley memprediksi resesi akan terjadi pada kuartal III-2019.

Baca Juga  BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami Pasca-gempa Jailolo 7,1 M
Sebuah layar di lantai Bursa Efek New York, Amerika Serikat, menunjukkan indeks Dow Jones yang anjlok 767 poin pada 5 Agustus 2019. Indeks Dow Jones kembali anjlok hingga 800 poin pada perdagangan hari Rabu (14/8/2019) waktu setempat. Justin Lane /EPA-EFE

“Goldman Sachs Group menyebut pada Minggu tentang kekhawatiran eskalasi perang dagang yang memicu resesi dan Goldman tidak berharap banyak kesepakatan dagang AS-China bisa tercapai sebelum Pilpres AS 2020,” tulis Reuters, Senin (19/8).

Meski masih prediksi, namun the Economist dan Reuters menulis soal tanda-tanda resesi. Pertama, kupon atau imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun terus turun dan nilainya lebih rendah dari kupon surat utang bertenor jangka pendek (3 bulan). Ini menunjukkan ketidakpastian terhadap ekonomi jangka panjang. Surat utang pemerintah bertenor 10 tahun tercatat terendah sebelum Pilpres 2016.

Indikator lainnya ialah angka pengangguran yang mulai meningkat dalam beberapa waktu terakhir, meskipun masih terendah dalam 50 tahun. Namun trennya bisa naik seperti terjadi pada 2 resesi sebelumnya, di 2001 dan 2008-2009.

Baca Juga  Xanana Gusmao Minta Warga Timor Leste dari Wuhan Dikarantina di Indonesia
Perusahaan pengiriman barang, FedEx. Foto: Mario Anzuoni/Reuters

“Memburuknya hubungan dagang China dan AS mulai mempengaruhi outlook ekonomi dan menekan pasar uang, di mana berdampak pula ke pasar tenaga kerja,” tambahnya.

Sektor manufaktur juga mulai melambat. Indeks manufaktur ( ISM Manufacturing Index) menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Di mana indeks manufaktur mulai mendekati nilai 50. Pada tren resesi di AS, bila ISM Manufacturing Index berada di bawah 50 maka di sana terjadi resesi.

Terakhir, indeks di industri pengiriman barang via laut atau The Cass Freight Index, mengalami tren penurunan dan bahkan sudah di bawah nol. Hal serupa terjadi pada 2 resesi terakhir.

“Apakah ini dampak dari perang dagang, tapi ada fakta lalu lintas barang via peti kemas yang menunjukkan ekonomi mulai menuju ke resesi,” kata Analis Broughton Capital, Donald Broughton .

Baca Juga  Diduga Monopoli Proyek di Pemkab Kepulauan Sula, HMI Cabang Sanana Desak Polres Segera Tangkap Dua Pemilik Perusahaan

Atas tanda-tanda resesi itu, investor mulai mengalihkan uangnya ke instrumen investasi aman seperti emas. Harga emas tercatat tertinggi dalam 6 tahun. (red/kum)