Namun ironi tak terelakkan. Di balik keindahan dan potensi itu, Mare menyimpan luka pembangunan yang tak kunjung sembuh.
Layanan Dasar yang Tertinggal
Salah satu persoalan paling mendasar adalah layanan kesehatan. Kehadiran ambulans laut yang seharusnya menjadi solusi darurat belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara efektif. Warga masih harus dirujuk ke Pulau Tidore karena keterbatasan fasilitas dan tenaga medis.
Minimnya sarana kesehatan modern, ditambah keterbatasan tenaga medis, membuat masyarakat lebih bergantung pada pengobatan tradisional. Di sisi lain, fasilitas yang ada seperti puskesmas pembantu (Pustu) dan posyandu pun tidak selalu dapat beroperasi optimal, terutama saat kondisi cuaca laut tidak bersahabat.
Padahal, dengan kondisi keuangan daerah—termasuk kas RSUD Kota Tidore yang disebut mencapai miliaran rupiah—seharusnya ada ruang kebijakan untuk memperkuat layanan kesehatan di wilayah kepulauan seperti Mare. Sayangnya, hingga kini, langkah konkret masih terasa absen.
Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah akses internet. Di era digital, konektivitas seharusnya menjadi kebutuhan dasar. Namun di Mare, untuk mendapatkan sinyal yang layak, warga harus berjalan ke titik-titik tertentu seperti pelabuhan. Aktivitas komunikasi, pendidikan, hingga ekonomi digital pun menjadi terhambat.








